Lost in Bali
March 4, 2009
ke mana pun aku pergi, aku hanya bisa tercenung. melintasi jalan demi jalan. tempat demi tempat. aku merasakan kehadiran-nya. senyum-nya. ujar-nya ketika dia menunjukkan sesuatu. atau tempat yg kerap dia ceritakan. I could feel her addicted fragrance.
aku bisa menahan diri. kali ini. tak sekali pun aku memberitahumu. tentang kehadiranku di pulau-mu yang indah ini. walau beribu kali keinginan itu hadir. to contact u. to come in ur home. to see u. to meet u. to feel u. I could control my eager desires.
aku sibuk-kan diri dengan kerja. that why I was in ur island. jalan-jalan sama teman-teman lain. foto-foto. cari oleh-oleh. meski hanya beberapa yang akhirnya aku beli.
but.. finally I regretted when I was back in Jogja.
malam dingin yang panas
January 8, 2009
malam itu kami berlima. menuju ke luar kota. ke selatan. ke sebuah pasar yang pernah runtuh terimbas gempa tiga tahun yang lalu. pasar telah tutup, tentu saja. namun ada yang justru buka pada waktu malam. sate klathak. sate kambing segar dengan bumbu minimalis. hanya asin, tanpa kecap. dengan keratan big size. di rangkai dalam sebuah jeruji sepeda sebagai tusukan-nya. satu porsi hanya berisi dua tusukan atau dua jeruji. catatan terbanyak-ku lima di sini. tapi malam itu aku hanya makan empat, alias dua porsi.
pulangnya kami menyusur ring road. mampir di depan tvri. duren ! memang sedang musim di jogja. aku tak inget habis berapa kami, sembilan atau sepuluh. aku termasuk dua orang maniak duren dalam rombongan itu. yang terus makan biji demi biji, sampai akhir.
aku tidur kantor malam itu. tertidur pulas setelah menenggak segelas air putih. namun aku terjaga kembali, setelah kurang lebih satu jam. kaosku basah. tubuhku berpeluh. panasss. aku kepanasan. aku nyalakan pendingin ruangan. dan tertidur kembali. dan kembali terjaga ketika subuh menjelang. aku kedinginan. malam itu memang malam yang dingin. sangat dingin. kata teman-ku yang terheran-heran dengan perilaku-ku malam itu. malam telah teramat dingin, tapi aku masih perlu pendingin.
untung aku tidak minum bir, habis mam sate dan makan duren.
Tahun Baru
December 31, 2008
adakah yang baru
adakah yang istimewa
semua tetap sama
yang lama tetap ada
ia tak pernah mau pergi
hinggap menancap di hati ku
tak mungkin lepas
akan ada yang baru ?
adakah ia !?
apakah ia juga akan menancap
dimana ?
hanya ada satu hati
Dalu Suci
December 27, 2008
1.
Dalu suci tidem sami
Jeng Gusti Pamarta
Tedhak manjalma krana kita
Miyos wonten kandhang Betlehem
Gustining dumadi
Gustining dumadi
2.
Bayi suci kang Ginusti
Nebusi tyang dosa
Nilar kamulyane ing swarga
Sumeleh ing rumput kang nista
N’ladani mring kita
N’ladani mring kita
3.
Dalu suci, tidhem sami
Jeng Gusti ambekta
Katentremane jagad-raya
Kados prasetyane Kang Rama
Mila linuhurna
Mila linuhurna
4.
Dalu suci tidhem sami
Jeng Gusti ambekta
Pirukuning tyang dosa sami
Cinandhang prasetyan kang baka
Amin linuhurna,
Amin linuhurna
Makassar
December 23, 2008
hampir satu minggu. tapi selalu hujan. setiap hari. dingin. selalu. setiap waktu. terkadang angin menghembus. kencang. gemeretak di daun jendela. membangunkanku dari mimpi yang sendu.
dulu. ia pernah menjanjikan. kita pernah ingin. bersatu di tempat ini. bersama di sini. menikmati keindahan demi keindahan. makan ikan. bakar ikan. sepuas-puasnya. sampai habis semua jenis ikan.
aku memang selalu makan ikan. setiap malam. setiap hari. selalu mencoba jenis yang baru. namun semua hambar. hanya dingin. cuman dingin. tanpa mu. dingin. makin hampa. ketika saat yang seharusnya indah itu ada. makin dingin. aku makin tanpa mu.
Desember Kelabu
December 1, 2008
Angin dingin meniup mencekam
di bulan Desember
air hujan turun deras dan kejam
hati berdebar
kuteringat bayangan impian
di malam itu malam yang kelabu
kau ucapkan kata
selamat tinggal sayang
Bulan madu yang engkau janjikan
semakin melayang
lenyap hilang ditelan air hujan
engkau tak datang
Bulan ini Desember kedua
aku menanti dua tahun sudah
kusabar menanti ku dilanda sepi
Angin dingin menusuk di hati
terasa oh nyeri
bulan madu tinggallah impian
tanpa kenyataan
Sinar cinta seterang rembulan
kini pudar sudah
Desember kelabu selalu menghantui
setiap mimpiku