ex-trackers
October 15, 2008
hujan mulai turun. semalem malam kedua. udah deres. bahkan yg sebelumnya pake halilintar. tapi semalem listrik mati. aku keluar rumah. skalian makan malem. skalian maen ke temen. yg buka angkringan. pake hotspot. tapi aku ndak bawa laptop.
*
baru mencari-cari meja. seorang temen menghadangku. gendut berkacamata. menjabat tanganku. “pernah ketemu dimana ya ?”. lalu kami saling menyebut nama. aku menyebut namanya. dia menyebut namaku. waktu mahasiswa kami sesama pecinta alam. beda organisasi. tapi sempet kerja bareng pas gladian nasional. sempet pula terlibat dalam irisan yang bersinggungan ketika bekerja. dia mempromosikan tungku hemat energi. aku bekerja di wilayah yang sama. tapi sekarang dia pensiun. “sekarang tungku dah ndak laku..”. dia berdagang alat-alat tracking sekarang. tepat di belakang angkringan hotspot.
**
ketika dah di meja. susu jahe barusan aja terhidang. tiga orang menghampiri. kakak angkatan. bersama istri dan anaknya. dandanan tak brubah. jeans. sepatu tracking. flanel. dan aneka asesoris khas pecinta alam. meski yang dipake tak selusuh dan murahan seperti dulu. begitu pula sang istri. nyaris tak berubah. bahkan sang bocah pun mulai berdandan ala axl rose.
mereka lebih banyak cerita kelahiran sang bocah. prematur. ketika sang suami tengah di luar kota. sang istri membengkak kaki-nya. tekanan darah tinggi. pre-eclampsia. keracunan kehamilan. akhirnya caesar. menyedihkan, katanya, ketika itu. menyaksikan sang bayi pake slang. kondisi-nya amat sangat tak stabil. baru dibilang besok boleh dibawa pulang. eee.. malah drop lagi besok-nya. pas boleh dibawa, mereka gantian bilang: “.. mbesok aja dech, dok !”.