malam dingin yang panas
January 8, 2009
malam itu kami berlima. menuju ke luar kota. ke selatan. ke sebuah pasar yang pernah runtuh terimbas gempa tiga tahun yang lalu. pasar telah tutup, tentu saja. namun ada yang justru buka pada waktu malam. sate klathak. sate kambing segar dengan bumbu minimalis. hanya asin, tanpa kecap. dengan keratan big size. di rangkai dalam sebuah jeruji sepeda sebagai tusukan-nya. satu porsi hanya berisi dua tusukan atau dua jeruji. catatan terbanyak-ku lima di sini. tapi malam itu aku hanya makan empat, alias dua porsi.
pulangnya kami menyusur ring road. mampir di depan tvri. duren ! memang sedang musim di jogja. aku tak inget habis berapa kami, sembilan atau sepuluh. aku termasuk dua orang maniak duren dalam rombongan itu. yang terus makan biji demi biji, sampai akhir.
aku tidur kantor malam itu. tertidur pulas setelah menenggak segelas air putih. namun aku terjaga kembali, setelah kurang lebih satu jam. kaosku basah. tubuhku berpeluh. panasss. aku kepanasan. aku nyalakan pendingin ruangan. dan tertidur kembali. dan kembali terjaga ketika subuh menjelang. aku kedinginan. malam itu memang malam yang dingin. sangat dingin. kata teman-ku yang terheran-heran dengan perilaku-ku malam itu. malam telah teramat dingin, tapi aku masih perlu pendingin.
untung aku tidak minum bir, habis mam sate dan makan duren.
Makassar
December 23, 2008
hampir satu minggu. tapi selalu hujan. setiap hari. dingin. selalu. setiap waktu. terkadang angin menghembus. kencang. gemeretak di daun jendela. membangunkanku dari mimpi yang sendu.
dulu. ia pernah menjanjikan. kita pernah ingin. bersatu di tempat ini. bersama di sini. menikmati keindahan demi keindahan. makan ikan. bakar ikan. sepuas-puasnya. sampai habis semua jenis ikan.
aku memang selalu makan ikan. setiap malam. setiap hari. selalu mencoba jenis yang baru. namun semua hambar. hanya dingin. cuman dingin. tanpa mu. dingin. makin hampa. ketika saat yang seharusnya indah itu ada. makin dingin. aku makin tanpa mu.
cipatujah
September 2, 2008
aku minum teh. ada yang pesen kopi. ada yang ikutan minum teh. aku menghabiskan dua ketimun segar. seger sekali di terik pantai siang itu.
ibuk itu bercerita tentang suami-nya. tentang ibuk-nya. ke-dua-nya harus direlakan. ketika tsunami enam meter menerjang. ada sembilan yang meninggal ketika itu. di tempat itu. pantai cipatujah.
*
entah bagaimana asal muasal-nya. aku bilang ingin sekali ikan bakar. dan ibuk itu menawarkan. membakarkan ikan. menggorengnya pula pabila ingin. tapi di rumah. ketika itu memang telah hampir gelap. toko dan warung mulai berkemas.
dan kami pun meluncur. setelah membeli ikan segar secukupnya. mengunjungi rumah si-ibuk. rumah yang dibangun proyek tsunami. sederhana. semi permanen. tembok-nya sepinggang. sisa-nya bambu gedhek. rumah anti gempa.
*
lebih satu jam kami menanti. beruntung kami ditemani anak-nya yang cantik ruar biasa
. sampe kemudian hidangan itu muncul. ketika lapar sudah menyergap. menaikkan asam di lambung kami. penantian yang tiada sia-sia. ikan bakar yang nikmat. yang digoreng pun lezat. konon sambel-nya juga mak nyoz.
